[Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 8), Shahih Muslim (no. 16)
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia merayakan Hari Santri Nasional, sebuah momen refleksi dan apresiasi atas kontribusi tak ternilai para ulama dan santri dalam merebut serta menjaga kemerdekaan Indonesia. Peringatan di tahun 2025 ini mengusung tema agung: "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia". Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan penegasan akan peran ganda santri sebagai penjaga kedaulatan moral bangsa dan agen perdamaian global.
Peran Santri: Mengawal Kemerdekaan dengan Ilmu dan Akhlak
Perjuangan santri telah bertransformasi. Dahulu, mereka berjuang dengan senjata di bawah komando ulama, seperti yang tercatat dalam Resolusi Jihad. Hari ini, perjuangan mereka diwujudkan melalui ilmu, karya, dan akhlak mulia.
"Mengawal Indonesia Merdeka" berarti santri hari ini bertanggung jawab menjaga empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) dari ancaman ideologi radikal, intoleransi, dan perpecahan. Pesantren menjadi kawah candradimuka yang melahirkan generasi dengan semangat cinta tanah air yang kokoh.
KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan inisiator Resolusi Jihad, telah menanamkan fondasi ini dengan tegas:
“Hubbul Wathan Minal Iman (Cinta tanah air sebagian dari iman).”
Kalam ini mengajarkan bahwa menjaga keutuhan, kedamaian, dan martabat negara bukanlah sekadar tugas patriotisme, melainkan perwujudan ketaatan beragama.
Menuju Peradaban Dunia: Menjadi Duta Perdamaian
Visi "Menuju Peradaban Dunia" menegaskan bahwa santri harus tampil di kancah global dengan membawa wajah Islam yang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi seluruh alam). Ini adalah misi untuk menyebarkan nilai-nilai:
Moderasi Beragama (Wasathiyah): Mengajarkan keseimbangan, toleransi, dan keadilan, menolak ekstremisme.
Toleransi dan Keberagaman: Menghargai perbedaan suku, agama, dan budaya sebagai kekayaan, bukan sumber konflik.
Perdamaian Sejati: Berupaya mendamaikan yang berselisih dan menjadi faktor perekat persatuan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Perdamaian (As-Salam) adalah inti ajaran Islam. Al-Qur’an menyeru umat manusia menuju keselamatan dan kedamaian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓ اِلٰى دَارِ السَّلٰمِۚ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Artinya: "Dan Allah menyeru (manusia) ke Dārussalām (negeri keselamatan/kedamaian), dan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus (Islam)." (QS. Yūnus [10]: 25)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama seruan Tuhan adalah menciptakan kehidupan yang damai. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, menekankan pentingnya menyebarkan perdamaian:
"Tidak akan masuk surga kalian sebelum beriman. Dan, kalian tidak dikatakan beriman sebelum saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling menyayangi? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Hadits ini menjadikan kasih sayang (mahabbah) dan penyebaran salam (perdamaian) sebagai prasyarat keimanan yang sempurna dan kunci terciptanya masyarakat yang harmonis.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ulama dan negarawan, pernah berujar tentang peran kultural santri dalam peradaban:
“Santri adalah penjaga tradisi sekaligus pelopor kemajuan. Mereka harus berdialog dengan zaman, berkompetisi di dunia internasional, namun tetap teguh menjaga nilai keindonesiaan.”
Untuk "Menuju Peradaban Dunia", santri harus melengkapi bekal agama mereka dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka harus menjadi sosok yang tidak hanya saleh secara ritual (shalih fardhi), tetapi juga saleh sosial (shalih ijtimā’i) dan saleh peradaban, yang mampu membawa solusi atas permasalahan global.
Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik tolak bagi para santri untuk terus berjuang dengan ikhlas, mengabdi tanpa pamrih, menyebarkan pesan perdamaian, dan membuktikan bahwa Islam Nusantara yang damai dan toleran adalah model ideal untuk membangun Peradaban Dunia yang adil dan berkeadilan. Dari pesantren, untuk Indonesia, menuju kemaslahatan umat manusia.
Yogyakarta – Kegiatan rutin Lentera Madhu (Madrasah Dhuhur) di Masjid Al-Muhsin kembali diisi oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Gondomanan, Achmad Muslih, S.Hum, pada Selasa, 21 Oktober 2025. Kajian dhuhur ini membahas materi mendalam mengenai Hidayah dengan merujuk pada tafsir Surah Al-Fatihah ayat 6.
Achmad Muslih, S.Hum. memulai kajiannya dengan membacakan lafaz ayat keenam dari Surah Al-Fatihah:
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
(Tunjukilah kami jalan yang lurus). Beliau menjelaskan bahwa permintaan hidayah ini adalah inti dari segala doa dan kebutuhan seorang hamba.
"Kata 'Ihdinâ' (tunjukilah kami) dalam ayat ini mengandung makna yang sangat luas, bukan sekadar memohon petunjuk secara umum, tetapi juga memohon bimbingan untuk selalu berada di jalan kebenaran," jelas Muslih.
Beliau menguraikan bahwa setidaknya ada empat tingkatan (jenis) hidayah yang Allah berikan kepada manusia:
Hidayah Naluri (Al-Fitrah/Al-Gharizah): Petunjuk dasar yang dimiliki setiap makhluk hidup, seperti insting untuk bertahan hidup.
Hidayah Indera dan Akal ('Aql): Kemampuan berpikir, menggunakan panca indera, dan menganalisis, yang membedakan manusia dari hewan.
Hidayah Agama (Ad-Dîn): Petunjuk syariat dan risalah yang disampaikan melalui para nabi dan kitab suci, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, yang wajib dipelajari dan diikuti.
Hidayah Taufiq (Taufîq): Tingkatan hidayah tertinggi, yaitu kemampuan untuk mengamalkan dan melaksanakan petunjuk agama (hidayah agama). Hidayah taufiq ini sepenuhnya merupakan anugerah dan hak prerogatif Allah SWT setelah seorang hamba berusaha mencari petunjuk.
Muslih menekankan bahwa doa “Ihdinash-shirâthal-mustaqîm” mencakup permintaan untuk diberikan hidayah pada level yang ketiga dan keempat, yakni petunjuk syariat agar mengetahui kebenaran dan petunjuk taufiq agar mampu mengamalkan kebenaran tersebut secara konsisten.
Hadits ke 1
Amalan Tergantung Niatnya
عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ )). رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَهْ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيّ النَّيْسَابُوْرِيّ، فِيْ صَحِيْحَيْهِمَا اللَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ اْلمُصَنَّفَةِ.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al Khaththab adia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya keapda Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” (Diriwayatkan oleh dua Imamnya para ahli hadits, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi dalam dua kitab shahih mereka, yang keduanya merupakan kitab yang paling shahih diantara kitab-kitab yang ada.).[1]
[1] Diriwayatkan oleh al Bukhari (1) dan Muslim (1907).
Yogyakarta – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Gondomanan, Achmad Muslih, S.Hum, kembali mengisi kegiatan rutin Lentera Madhu (Madrasah Dhuhur) di Masjid Taqarruba pada Senin, 20 Oktober 2025. Di hadapan jamaah, beliau menyampaikan materi penting dari kitab monumental Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin, mengenai godaan kedua yang harus dihadapi oleh seorang hamba untuk mencapai kesempurnaan.
Dalam penyampaiannya, Achmad Muslih, S.Hum menjelaskan bahwa godaan kedua yang paling berat setelah godaan dunia adalah godaan makhluk (manusia). Menurut Imam Al-Ghazali, interaksi yang berlebihan atau tidak bermanfaat dengan sesama manusia dapat mengalihkan fokus seorang hamba dari ketaatan kepada Allah SWT. Godaan ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pujian yang menyesatkan, celaan yang melemahkan semangat, hingga perdebatan yang menghabiskan waktu tanpa guna.
Untuk menghadapi godaan makhluk ini, PAI KUA Gondomanan tersebut menekankan solusi yang disarankan oleh Imam Al-Ghazali, yakni dengan mengamalkan konsep 'uzlah atau menyendiri.
"Uzlah di sini bukan berarti menjauhi masyarakat secara total, melainkan membatasi diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat, menjaga lisan dari pembicaraan sia-sia, dan mengarahkan hati hanya kepada Allah," jelas Achmad Muslih. "Intinya adalah menyendiri dari pergaulan yang bisa merusak amal dan memalingkan hati dari tujuan utama kita, yaitu menjadi hamba yang sempurna."
Semua manusia pastinya menginginkan hidupnya bahagia. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut, termasuk dengan bekerja keras dalam mencari nafkah.
Namun tantangan hidup di dunia yang penuh dengan dinamika kerap membuat kita tidak bahagia, bahkan sering kecewa. Banyak harapan dan ekspektasi yang tak sesuai dengan kenyataan.
Rasa kecewa yang bertumpuk yang disertai dengan rasa gelisah, cemas, bahkan putus asa, dapat berpengaruh pada semangat hidup dan kesehatan, baik fisik maupun mental. Sebagai umat Muslim, bagaimana kita dapat menggapai kebahagiaan tersebut?
Tentu kita akan menjawabnya sesuai dengan tuntunan Allah swt dan Rasulullah saw. Dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 97 Allah berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (an-Nahl: 97).
beberapa cara mencapai hidup bahagia:
Pertama, adalah rezeki yang halal.
Rezeki yang halal membuat hidup menjadi bahagia dan berkah, segala urusan menjadi mudah, keluarga penuh sakinah, mawaddah, dan rahmah, putra-putrinya saleh dan salehah, jiwa raga semangat untuk ibadah, serta harta yg melimpah bisa digunakan utk haji & umrah ke Makkah.
يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
Artinya: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barang siapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan Memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR Bukhari).
Rezeki yang halal menjadi pertanda seseorang hidup bahagia di dunia ini. Hal ini terbukti jika kita melihat beberapa contoh dalam kehidupan nyata, sebuah keluarga yang serba pas-pasan, membesarkan putra putrinya dengan serba kekurangan, namun dengan harta yang halal, berkah dan dapat untuk mengarungi kehidupan, hingga mengantarkan anak-anaknya menuju kesuksesan.
Kedua, Qanaah, ridha dg pemberian Allah.
Seseorang yang memiliki uang banyak, jabatan yang tinggi, harta yang melimpah ruah, namun tidak memiliki sifat qanaah, ia akan selalu kurang, serakah, rakus, dan tentunya hidupnya tidak bahagia. Nabi Muhammad saw bersabda
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung orang yg masuk Islam, diberi kecukupan rezeki, diberikan qanaah oleh Allah atas apa yg diberikan padanya.(Hr. Muslim)
Bagaimana agar kita bisa mencapai qanaah tersebut? Nabi bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: Lihatlah orang yang ada di bawah kalian, jangan melihat seseorang yang ada di atas kalian, hal tersebut agar kalian tdk meremehkan nikmat Allah pada kalian (HR Muslim).
Orang yang memiliki sifat qanaah menunjukkan hidupnya bahagia dan tidak susah, karena selalu bersyukur atas apa yang ia dapatkan.
Ketiga, mendapatkan pertolongan Allah untuk melakukan kebaikan, ibadah, dan taat kepada Allah (taufiquhu ilath-thâ‘at).
Bagaimana mendapatkan pertolongan Allah?
Allah berfirman dalam QS Muhammad ayat 7:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
Artinya: Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Menurut Imam Ath-Thabari dalam Tafsir Jamiul Bayan juz 21 halaman 191, Allah akan menolong orang yang beramal sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhai, yaitu orang yang berjuang di jalan Allah.
Seperti orang yang menuntut ilmu, mengajar di lembaga keilmuan, orang yang memakmurkan masjid, dan sesamanya. Merekalah orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah dan hidupnya akan diwarnai dengan kebahagiaan.
Keempat, merasakan manisnya ibadah dan taat kepada Allah (halâwah thâ‘ât).
Nabi bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللّٰهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Artinya: Ada tiga orang yang dapat menemukan manisnya keimanan: (1) orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul dibanding selainnya, (2) orang yang mencintai seseorang karena Allah, (3) orang yang membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dimasukkan ke neraka.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada empat cara memperoleh kebahagian, yakni rezeki yang halal, qanaah (menerima) apa yang telah diberikan Allah, mendapat pertolongan Allah dalam ketaatan, dan dapat merasakan nikmatnya keimanan. Semoga kita selalu mendapatkan rahmat Allah agar bisa menjadi manusia yang bahagia di dunia dan akhirat.