Selasa, 21 Oktober 2025

Makna Hidayah Berdasarkan Tafsir Al-Fatihah Ayat 6 dalam Lentera Madhu


 

Yogyakarta – Kegiatan rutin Lentera Madhu (Madrasah Dhuhur) di Masjid Al-Muhsin kembali diisi oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Gondomanan, Achmad Muslih, S.Hum, pada Selasa, 21 Oktober 2025. Kajian dhuhur ini membahas materi mendalam mengenai Hidayah dengan merujuk pada tafsir Surah Al-Fatihah ayat 6.

Achmad Muslih, S.Hum. memulai kajiannya dengan membacakan lafaz ayat keenam dari Surah Al-Fatihah: 

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

(Tunjukilah kami jalan yang lurus). Beliau menjelaskan bahwa permintaan hidayah ini adalah inti dari segala doa dan kebutuhan seorang hamba.

"Kata 'Ihdinâ' (tunjukilah kami) dalam ayat ini mengandung makna yang sangat luas, bukan sekadar memohon petunjuk secara umum, tetapi juga memohon bimbingan untuk selalu berada di jalan kebenaran," jelas Muslih.

Beliau menguraikan bahwa setidaknya ada empat tingkatan (jenis) hidayah yang Allah berikan kepada manusia:

  1. Hidayah Naluri (Al-Fitrah/Al-Gharizah): Petunjuk dasar yang dimiliki setiap makhluk hidup, seperti insting untuk bertahan hidup.

  2. Hidayah Indera dan Akal ('Aql): Kemampuan berpikir, menggunakan panca indera, dan menganalisis, yang membedakan manusia dari hewan.

  3. Hidayah Agama (Ad-Dîn): Petunjuk syariat dan risalah yang disampaikan melalui para nabi dan kitab suci, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, yang wajib dipelajari dan diikuti.

  4. Hidayah Taufiq (Taufîq): Tingkatan hidayah tertinggi, yaitu kemampuan untuk mengamalkan dan melaksanakan petunjuk agama (hidayah agama). Hidayah taufiq ini sepenuhnya merupakan anugerah dan hak prerogatif Allah SWT setelah seorang hamba berusaha mencari petunjuk.

Muslih menekankan bahwa doa “Ihdinash-shirâthal-mustaqîm” mencakup permintaan untuk diberikan hidayah pada level yang ketiga dan keempat, yakni petunjuk syariat agar mengetahui kebenaran dan petunjuk taufiq agar mampu mengamalkan kebenaran tersebut secara konsisten.