Ribuan tahun yang lalu, di sebuah lembah gersang tanpa tanda-tanda kehidupan, seorang wanita berdiri tegar di atas pasir yang membara. Ketika Nabi Ibrahim AS melangkah pergi meninggalkannya dan bayi Ismail di lembah yang sunyi, Hajar tidak meratap histeris. Ia hanya melontarkan satu pertanyaan penentu: "Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?" Saat jawaban "Ya" terdengar, seluruh kegelisahannya sirna. "Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami," jawabnya mantap. Inilah "obat" bagi penyakit anxiety dan ketakutan akan masa depan yang menjangkiti wanita modern. Hajar mengajarkan bahwa kepatuhan kepada syariat bukanlah belenggu, melainkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Saat seorang wanita meletakkan Allah sebagai muara dari setiap keputusannya, maka dunia yang sempit pun akan terasa lapang. Ia tidak lagi diperbudak oleh penilaian manusia atau standar kecantikan yang fana, karena ia tahu ia berada dalam penjagaan sebaik-baiknya Pelindung.
Saat perbekalan habis dan Ismail terus menangis karena kehausan, Hajar tidak hanya duduk diam. Iman bagi Hajar adalah bahan bakar untuk bergerak. Ia berlari dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah, bukan sekali, tapi tujuh kali. Ia tidak menyerah pada rasa haus, lelah, atau fatamorgana yang menipu mata. Ibaratnya wanita hari ini adalah para "pelari" di lintasannya masing-masing. Ada yang berlari mengejar tenggat pekerjaan, ada yang berlari mengurus keperluan rumah tangga, dan ada yang berlari menuntut ilmu setinggi langit. Ikhtiar adalah hak kita, sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Menjadi wanita muslimah tidak berarti pasif, justru Islam menuntut kita untuk menjadi pribadi yang mandiri, kompeten, dan penuh daya juang dalam menebar manfaat. Download
Keajaiban Zamzam adalah penutup yang indah dari drama perjuangan Hajar. Menariknya, air suci itu tidak memancar dari bawah kaki Hajar yang lelah berlari, melainkan dari hentakan kaki Ismail yang mungil. Ada sebuah rahasia langit di sana yaitu sering kali, buah dari kesabaran dan kerja keras kita tidak muncul langsung dari tangan kita sendiri, melainkan melalui jalan lain yang tidak pernah kita sangka. Mungkin melalui keberhasilan anak-anak kita, keberkahan harta, atau ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli.
Di era yang serba instan ini, Siti Hajar mengajak kita kembali pada hakikat kesabaran. Sabar bukan berarti diam dalam penderitaan, melainkan bertahan dalam ketaatan sambil terus mencari jalan keluar. Di bawah terik matahari Makkah, ia telah memenangkan pertempuran melawan keputusasaan. Untuk para wanita masa kini, ingatlah bahwa setiap tetap keringat dalam mendidik anak, setiap lelah dalam mencari nafkah yang halal, dan setiap sabar dalam menghadapi ujian hidup adalah "Shafa dan Marwah" versi kita. Jangan pernah merasa sendirian di padang pasir kehidupan ini. Selama ada Allah di hati kita, "Zamzam" itu akan selalu ada, mengalir memberi kesejukan di tengah gersangnya dunia, hingga kelak kita bertemu di telaga keabadian-Nya. (Astuti) Download











