Jumat, 08 Mei 2026

KUA Gondomanan Turun Langsung dalam Kerja Bakti Kemantren, Wujud Nyata Kepedulian Lingkungan


KUA Kemantren Gondomanan turut ambil bagian dalam kegiatan kerja bakti bersama Forkompimtren Gondomanan yang dilaksanakan pada Jumat pagi, 8 Mei 2026. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB dengan titik kumpul di Kantor Kemantren Gondomanan dan menyasar area sepanjang Jalan Brigjen Katamso hingga wilayah Prawirodirjan. Kerja bakti ini menjadi bentuk sinergi lintas instansi dan masyarakat dalam menjaga kebersihan serta kenyamanan lingkungan perkotaan.

Dalam kegiatan tersebut, jajaran pegawai KUA Gondomanan bersama unsur Forkompimtren, masyarakat, dan para pemilik usaha di sepanjang jalur kerja bakti tampak antusias membersihkan lingkungan, mengangkut sampah, serta menata kawasan agar lebih bersih dan tertata. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan semangat gotong royong yang masih kuat terjaga sebagai budaya luhur di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Melalui partisipasi aktif ini, KUA Gondomanan berharap kegiatan kerja bakti tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat, tercipta lingkungan yang sehat, nyaman, dan mendukung terciptanya kawasan Gondomanan yang semakin tertib dan asri.

Khutbah Jum’at: Menjadi Penolong di Tengah Luka Dunia

 


 Khutbah Jum’at: Menjadi Penolong di Tengah Luka Dunia

Achmad Muslih, S.Hum: Penyuluh Agama Islam KUA Gondomanan

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ للهِ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَالْعَفَافِ وَالْإِسْتِقَامَةِ، وَنَهَانَا عَنِ الْإِرْتِكَابِ الْفَوَاحِشِ وَالْمُنْكَرِ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah SWT. Takwa bukan sekadar rukuk dan sujud, melainkan sejauh mana kita mampu menebar manfaat bagi sesama makhluk-Nya.

Hari ini, tanggal 8 Mei 2026, dunia memperingati Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Momen ini bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan pengingat bagi kita tentang nilai universal yang dijunjung tinggi Islam: Kemanusiaan.

Ma’asyiral Muslimin,

Dunia kita hari ini tidak sedang baik-baik saja. Konflik bersenjata, krisis iklim yang memicu bencana alam, hingga ketimpangan ekonomi membuat jutaan manusia kehilangan rumah, kesehatan, dan harapan. Di sinilah peran relawan kemanusiaan—termasuk Bulan Sabit Merah—menjadi garda terdepan.

Islam sangat menekankan bahwa menyelamatkan satu nyawa manusia setara dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 32:

وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗ

"...Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya..."

Ayat ini adalah Piagam Kemanusiaan yang luar biasa. Islam tidak bertanya apa agama orang yang sedang sekarat, apa sukunya, atau apa pilihan politiknya. Saat seseorang menderita, kewajiban kita adalah menolongnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Prinsip dasar gerakan kemanusiaan seperti Kenetralan dan Kemandirian sejalan dengan sifat mukmin yang sejati. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Ahmad)

Membantu sesama tidak harus menunggu kita menjadi kaya atau bergabung dengan organisasi besar. Kita bisa memulainya dengan:

1.    Mendonorkan darah: Setetes darah kita adalah napas bagi orang lain.

2.    Kepedulian sosial: Peka terhadap tetangga yang sakit atau kesulitan.

3.    Mendukung lembaga kemanusiaan: Memberi dukungan moral maupun material bagi mereka yang bertaruh nyawa di daerah konflik dan bencana.

Jangan sampai hati kita mati rasa. Di era digital ini, jangan hanya menjadi penonton penderitaan orang lain lewat layar ponsel. Jadilah bagian dari solusi, sekecil apa pun itu.

Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa setiap tindakan kemanusiaan yang kita lakukan adalah investasi akhirat. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman bahwa pada hari kiamat Dia akan menegur hamba-Nya:


"Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku." Hamba bertanya, "Bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?" Allah menjawab, "Tidakkah kau tahu hamba-Ku si fulan sakit namun kau tidak menjenguknya? Seandainya kau menjenguknya, niscaya kau dapati Aku di sisinya." (HR. Muslim)

Ini adalah tamparan bagi kita jika kita mengaku beriman tapi abai terhadap penderitaan manusia.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada para relawan kemanusiaan di seluruh dunia, khususnya mereka yang bergerak di bawah panji Bulan Sabit Merah, agar terus konsisten membantu tanpa membedakan. Dan semoga kita digolongkan sebagai hamba-hamba-Nya yang ringan tangan dalam menolong sesama.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ عِبَادَهُ بِالْخَيْرِ وَحَذَّرَهُمْ مِنَ الشَّرِّ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالزَّلَّاتِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَمَلٍ لَا يُرْضِيْهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Donwload Khutbah


Kamis, 07 Mei 2026

Jejak Hajar di Aspal Kota Layaknya Menemukan Zamzam di Tengah Modernitas

 

Ribuan tahun yang lalu, di sebuah lembah gersang tanpa tanda-tanda kehidupan, seorang wanita berdiri tegar di atas pasir yang membara. Ketika Nabi Ibrahim AS melangkah pergi meninggalkannya dan bayi Ismail di lembah yang sunyi, Hajar tidak meratap histeris. Ia hanya melontarkan satu pertanyaan penentu: "Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?" Saat jawaban "Ya" terdengar, seluruh kegelisahannya sirna. "Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami," jawabnya mantap. Inilah "obat" bagi penyakit anxiety dan ketakutan akan masa depan yang menjangkiti wanita modern. Hajar mengajarkan bahwa kepatuhan kepada syariat bukanlah belenggu, melainkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Saat seorang wanita meletakkan Allah sebagai muara dari setiap keputusannya, maka dunia yang sempit pun akan terasa lapang. Ia tidak lagi diperbudak oleh penilaian manusia atau standar kecantikan yang fana, karena ia tahu ia berada dalam penjagaan sebaik-baiknya Pelindung.

Saat perbekalan habis dan Ismail terus menangis karena kehausan, Hajar tidak hanya duduk diam. Iman bagi Hajar adalah bahan bakar untuk bergerak. Ia berlari dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah, bukan sekali, tapi tujuh kali. Ia tidak menyerah pada rasa haus, lelah, atau fatamorgana yang menipu mata. Ibaratnya wanita hari ini adalah para "pelari" di lintasannya masing-masing. Ada yang berlari mengejar tenggat pekerjaan, ada yang berlari mengurus keperluan rumah tangga, dan ada yang berlari menuntut ilmu setinggi langit. Ikhtiar adalah hak kita, sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Menjadi wanita muslimah tidak berarti pasif, justru Islam menuntut kita untuk menjadi pribadi yang mandiri, kompeten, dan penuh daya juang dalam menebar manfaat. Download

Keajaiban Zamzam adalah penutup yang indah dari drama perjuangan Hajar. Menariknya, air suci itu tidak memancar dari bawah kaki Hajar yang lelah berlari, melainkan dari hentakan kaki Ismail yang mungil. Ada sebuah rahasia langit di sana yaitu sering kali, buah dari kesabaran dan kerja keras kita tidak muncul langsung dari tangan kita sendiri, melainkan melalui jalan lain yang tidak pernah kita sangka. Mungkin melalui keberhasilan anak-anak kita, keberkahan harta, atau ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli.

Di era yang serba instan ini, Siti Hajar mengajak kita kembali pada hakikat kesabaran. Sabar bukan berarti diam dalam penderitaan, melainkan bertahan dalam ketaatan sambil terus mencari jalan keluar. Di bawah terik matahari Makkah, ia telah memenangkan pertempuran melawan keputusasaan. Untuk para wanita masa kini, ingatlah bahwa setiap tetap keringat dalam mendidik anak, setiap lelah dalam mencari nafkah yang halal, dan setiap sabar dalam menghadapi ujian hidup adalah "Shafa dan Marwah" versi kita. Jangan pernah merasa sendirian di padang pasir kehidupan ini. Selama ada Allah di hati kita, "Zamzam" itu akan selalu ada, mengalir memberi kesejukan di tengah gersangnya dunia, hingga kelak kita bertemu di telaga keabadian-Nya. (Astuti) Download

Menyelamatkan Sejarah: Tantangan KUA Gondomanan dalam Digitalisasi Arsip Nikah Lawas

 

YOGYAKARTA – Kantor Urusan Agama (KUA) Gondomanan tengah memacu program digitalisasi arsip nikah sebagai bagian dari transformasi digital Kementerian Agama. Namun, upaya penyelamatan dokumen negara ini bukan tanpa hambatan. Petugas di lapangan kerap menemui kendala teknis saat memproses buku atau akta nikah terbitan tahun lama.

Kendala Fisik dan Dialek Tulisan

Faktor usia dokumen menjadi tantangan utama. Banyak lembaran akta yang kondisinya sudah menguning, robek, hingga tinta yang mulai pudar dimakan usia. Selain kerusakan fisik, petugas penginput data sering mengalami kesulitan membaca gaya tulisan tangan petugas zaman dahulu yang belum terstandarisasi.

"Gaya tulisan yang bervariasi, mulai dari model miring hingga tulisan latin yang sulit terbaca, sering memicu inkonsistensi," ungkap salah satu petugas. Penggunaan ejaan lama juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas saat ini yang lebih terbiasa dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Strategi Verifikasi Tiga Lapis

Guna mengatasi kebuntuan tersebut, KUA Gondomanan menerapkan inovasi "Tim Verifikasi 3 Lapis" untuk menjamin akurasi data. Sistem kerja ini melibatkan tiga peran utama: 

  1. Satu petugas khusus melakukan pemindaian (scan) dokumen.
  2. Satu petugas bertugas membaca teks asli.
  3. Satu petugas bertugas melakukan validasi akhir.

Jika masih ditemukan keraguan dalam pembacaan identitas, tim akan melakukan diskusi bersama guna menentukan interpretasi yang paling tepat. Prinsip utamanya adalah menjaga autentisitas: penulisan kembali tetap mempertahankan ejaan lama sesuai dokumen sumber tanpa mengubah satu huruf pun.    

Investasi Pelayanan Masa Depan

Langkah mendetail ini diambil karena akta nikah dianggap sebagai dokumen bersejarah yang nilainya tak lekang oleh waktu. Meskipun proses di awal terasa lebih rumit dan menyita waktu, digitalisasi ini diproyeksikan akan mempermudah masyarakat di masa depanDengan adanya pangkalan data digital yang akurat, pelayanan permohonan salinan akta nikah di KUA Gondomanan nantinya dapat dilakukan dengan jauh lebih cepat dan efisien. (Hermin)

Sabtu, 02 Mei 2026

Menjadi Guru yang Cerdas pada Sekolah Pertama

 


    Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei kembali menjadi momentum reflektif bagi bangsa Indonesia dalam meneguhkan komitmen terhadap kemajuan pendidikan. Pada tahun 2026, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah ajakan strategis untuk memperkuat kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas. Partisipasi ini tidak hanya sekedar dari kelas-kelas guru dan murid, namun bisa dari lingkungan terkecil yakni keluarga.

     Unit terkecil di dalam masyarakat adalah keluarga, yang terdiri dari seoarang suami, istri dan anak-anaknya. Seorang anak mengenal segala sesuatu di alam raya ini tentunya meniru dan belajar dari kedua orang tuanya. Utamanya dari ibunya yang sudah berinteraksi secara lahir dan batin sejak dalam kandungan, melahirkan, menyusui kemudian mengasuhnya. Disinilah peran seorang ibu sangat menentukan watak dan perilaku anaknya kelak. Download

    Ada ungkapan menarik dari seorang penyair Mesir yang bernama Hafez Ibrahim yang terkeal yaitu “Al-Ummu Madrasatul Ula, Ibu Sekolah Pertama bagi Anak”. Menjadi "madrasah pertama" bukan berarti wanita harus mengurung diri dari dunia luar. Sebaliknya, tugas ini menuntut wanita untuk menjadi sosok yang cerdas dan berwawasan luas. Ibu yang cerdas adalah ibu yang bisa setidaknya 3M:

  1. Mampu menjawab rasa ingin tahu anak dengan landasan iman dan logika yang benar.
  2. Menjadi penyaring (filter) bagi pengaruh buruk teknologi dan pergaulan luar.
  3. Membangun adab sebelum ilmu, agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat.

    Oleh karena itu ketika seorang wanita menyiapkan dirinya dengan ilmu, ia sebenarnya sedang menyiapkan calon pengurus bangsa yang gemilang. Mari jadikan rumah kita sebagai madrasah yang penuh cahaya ilmu, di mana cinta Allah ditanamkan sejak dini melalui tanganvwanita menyiapkan dirinya dengan ilmu, ia sebenarnya sedang menyiapkan sebuah bangsa yang kuat. Mari jadikan rumah kita sebagai madrasah yang penuh cahaya ilmu, di mana cinta Allah ditanamkan sejak dini melalui tangan lembut seorang ibu. (Astuti)

============================== Download =================================

Rabu, 29 April 2026

Sinergi Spiritual dan Tugas: Bimbingan Al-Qur’an di Polsek Gondomanan Perkuat Nilai Keagamaan Personel


 

Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Gondomanan melaksanakan kegiatan bimbingan Al-Qur’an di lingkungan Polsek Gondomanan pada Rabu, 29 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan mental dan spiritual bagi anggota kepolisian agar tetap seimbang antara pelaksanaan tugas dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Dalam suasana yang khidmat, para peserta mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an secara langsung dengan pendampingan penyuluh. Metode yang digunakan menyesuaikan kemampuan masing-masing peserta, sehingga proses pembelajaran berlangsung interaktif dan efektif. Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara KUA dan institusi kepolisian dalam membangun masyarakat yang religius dan berakhlak mulia.

Melalui bimbingan ini, diharapkan para personel Polsek Gondomanan semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah serta mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tugas sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Sinergi lintas sektor ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang harmonis dan berlandaskan nilai spiritual.

Nuansa Spiritual memperkuat Pembinaan di PP Al-Munawwir Krapyak



YOGYAKARTA – Dalam rangka memperkuat peran dan fungsi di tengah masyarakat, seluruh jajaran Penyuluh Agama Islam dari Kemantren Gondomanan turut serta dalam kegiatan Pembinaan Penyuluh Agama Islam se-Kota Yogyakarta. Acara ini berlangsung khidmat pada Rabu, 29 April 2026, bertempat di Aula G Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak.

Kegiatan ini merupakan agenda strategis yang dihadiri oleh seluruh Penyuluh Agama Islam, baik fungsional maupun non-fungsional dari seluruh wilayah Kota Yogyakarta.

Pembinaan ini menghadirkan dua narasumber utama dari Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta:

1. Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta: Memberikan arahan terkait kebijakan makro penguatan moderasi beragama dan peran penyuluh sebagai ujung tombak Kemenag di masyarakat.

2. Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Yogyakarta: Memfokuskan pada penguatan administrasi, optimalisasi penyuluhan berbasis digital, dan evaluasi program kerja di lapangan.

Pemilihan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak sebagai lokasi kegiatan memberikan nuansa spiritual tersendiri. Para penyuluh diharapkan dapat menyerap semangat keilmuan dan pengabdian dari salah satu pesantren bersejarah di Yogyakarta tersebut untuk diterapkan di wilayah binaan masing-masing, khususnya di wilayah Gondomanan.

"Penyuluh bukan sekadar pemberi informasi, tapi adalah penggerak perubahan di masyarakat. Di tempat yang penuh berkah ini, kita perbarui niat dan kompetensi kita," ungkap Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta dalam sambutannya. Tim Humas KUA Gondomanan