Kamis, 07 Mei 2026

Jejak Hajar di Aspal Kota Layaknya Menemukan Zamzam di Tengah Modernitas

 

Ribuan tahun yang lalu, di sebuah lembah gersang tanpa tanda-tanda kehidupan, seorang wanita berdiri tegar di atas pasir yang membara. Ketika Nabi Ibrahim AS melangkah pergi meninggalkannya dan bayi Ismail di lembah yang sunyi, Hajar tidak meratap histeris. Ia hanya melontarkan satu pertanyaan penentu: "Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?" Saat jawaban "Ya" terdengar, seluruh kegelisahannya sirna. "Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami," jawabnya mantap. Inilah "obat" bagi penyakit anxiety dan ketakutan akan masa depan yang menjangkiti wanita modern. Hajar mengajarkan bahwa kepatuhan kepada syariat bukanlah belenggu, melainkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Saat seorang wanita meletakkan Allah sebagai muara dari setiap keputusannya, maka dunia yang sempit pun akan terasa lapang. Ia tidak lagi diperbudak oleh penilaian manusia atau standar kecantikan yang fana, karena ia tahu ia berada dalam penjagaan sebaik-baiknya Pelindung.

Saat perbekalan habis dan Ismail terus menangis karena kehausan, Hajar tidak hanya duduk diam. Iman bagi Hajar adalah bahan bakar untuk bergerak. Ia berlari dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah, bukan sekali, tapi tujuh kali. Ia tidak menyerah pada rasa haus, lelah, atau fatamorgana yang menipu mata. Ibaratnya wanita hari ini adalah para "pelari" di lintasannya masing-masing. Ada yang berlari mengejar tenggat pekerjaan, ada yang berlari mengurus keperluan rumah tangga, dan ada yang berlari menuntut ilmu setinggi langit. Ikhtiar adalah hak kita, sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Menjadi wanita muslimah tidak berarti pasif, justru Islam menuntut kita untuk menjadi pribadi yang mandiri, kompeten, dan penuh daya juang dalam menebar manfaat. Download

Keajaiban Zamzam adalah penutup yang indah dari drama perjuangan Hajar. Menariknya, air suci itu tidak memancar dari bawah kaki Hajar yang lelah berlari, melainkan dari hentakan kaki Ismail yang mungil. Ada sebuah rahasia langit di sana yaitu sering kali, buah dari kesabaran dan kerja keras kita tidak muncul langsung dari tangan kita sendiri, melainkan melalui jalan lain yang tidak pernah kita sangka. Mungkin melalui keberhasilan anak-anak kita, keberkahan harta, atau ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli.

Di era yang serba instan ini, Siti Hajar mengajak kita kembali pada hakikat kesabaran. Sabar bukan berarti diam dalam penderitaan, melainkan bertahan dalam ketaatan sambil terus mencari jalan keluar. Di bawah terik matahari Makkah, ia telah memenangkan pertempuran melawan keputusasaan. Untuk para wanita masa kini, ingatlah bahwa setiap tetap keringat dalam mendidik anak, setiap lelah dalam mencari nafkah yang halal, dan setiap sabar dalam menghadapi ujian hidup adalah "Shafa dan Marwah" versi kita. Jangan pernah merasa sendirian di padang pasir kehidupan ini. Selama ada Allah di hati kita, "Zamzam" itu akan selalu ada, mengalir memberi kesejukan di tengah gersangnya dunia, hingga kelak kita bertemu di telaga keabadian-Nya. (Astuti) Download

Menyelamatkan Sejarah: Tantangan KUA Gondomanan dalam Digitalisasi Arsip Nikah Lawas

 

YOGYAKARTA – Kantor Urusan Agama (KUA) Gondomanan tengah memacu program digitalisasi arsip nikah sebagai bagian dari transformasi digital Kementerian Agama. Namun, upaya penyelamatan dokumen negara ini bukan tanpa hambatan. Petugas di lapangan kerap menemui kendala teknis saat memproses buku atau akta nikah terbitan tahun lama.

Kendala Fisik dan Dialek Tulisan

Faktor usia dokumen menjadi tantangan utama. Banyak lembaran akta yang kondisinya sudah menguning, robek, hingga tinta yang mulai pudar dimakan usia. Selain kerusakan fisik, petugas penginput data sering mengalami kesulitan membaca gaya tulisan tangan petugas zaman dahulu yang belum terstandarisasi.

"Gaya tulisan yang bervariasi, mulai dari model miring hingga tulisan latin yang sulit terbaca, sering memicu inkonsistensi," ungkap salah satu petugas. Penggunaan ejaan lama juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas saat ini yang lebih terbiasa dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Strategi Verifikasi Tiga Lapis

Guna mengatasi kebuntuan tersebut, KUA Gondomanan menerapkan inovasi "Tim Verifikasi 3 Lapis" untuk menjamin akurasi data. Sistem kerja ini melibatkan tiga peran utama: 

  1. Satu petugas khusus melakukan pemindaian (scan) dokumen.
  2. Satu petugas bertugas membaca teks asli.
  3. Satu petugas bertugas melakukan validasi akhir.

Jika masih ditemukan keraguan dalam pembacaan identitas, tim akan melakukan diskusi bersama guna menentukan interpretasi yang paling tepat. Prinsip utamanya adalah menjaga autentisitas: penulisan kembali tetap mempertahankan ejaan lama sesuai dokumen sumber tanpa mengubah satu huruf pun.    

Investasi Pelayanan Masa Depan

Langkah mendetail ini diambil karena akta nikah dianggap sebagai dokumen bersejarah yang nilainya tak lekang oleh waktu. Meskipun proses di awal terasa lebih rumit dan menyita waktu, digitalisasi ini diproyeksikan akan mempermudah masyarakat di masa depanDengan adanya pangkalan data digital yang akurat, pelayanan permohonan salinan akta nikah di KUA Gondomanan nantinya dapat dilakukan dengan jauh lebih cepat dan efisien. (Hermin)

Sabtu, 02 Mei 2026

Menjadi Guru yang Cerdas pada Sekolah Pertama

 


    Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei kembali menjadi momentum reflektif bagi bangsa Indonesia dalam meneguhkan komitmen terhadap kemajuan pendidikan. Pada tahun 2026, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah ajakan strategis untuk memperkuat kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas. Partisipasi ini tidak hanya sekedar dari kelas-kelas guru dan murid, namun bisa dari lingkungan terkecil yakni keluarga.

     Unit terkecil di dalam masyarakat adalah keluarga, yang terdiri dari seoarang suami, istri dan anak-anaknya. Seorang anak mengenal segala sesuatu di alam raya ini tentunya meniru dan belajar dari kedua orang tuanya. Utamanya dari ibunya yang sudah berinteraksi secara lahir dan batin sejak dalam kandungan, melahirkan, menyusui kemudian mengasuhnya. Disinilah peran seorang ibu sangat menentukan watak dan perilaku anaknya kelak. Download

    Ada ungkapan menarik dari seorang penyair Mesir yang bernama Hafez Ibrahim yang terkeal yaitu “Al-Ummu Madrasatul Ula, Ibu Sekolah Pertama bagi Anak”. Menjadi "madrasah pertama" bukan berarti wanita harus mengurung diri dari dunia luar. Sebaliknya, tugas ini menuntut wanita untuk menjadi sosok yang cerdas dan berwawasan luas. Ibu yang cerdas adalah ibu yang bisa setidaknya 3M:

  1. Mampu menjawab rasa ingin tahu anak dengan landasan iman dan logika yang benar.
  2. Menjadi penyaring (filter) bagi pengaruh buruk teknologi dan pergaulan luar.
  3. Membangun adab sebelum ilmu, agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat.

    Oleh karena itu ketika seorang wanita menyiapkan dirinya dengan ilmu, ia sebenarnya sedang menyiapkan calon pengurus bangsa yang gemilang. Mari jadikan rumah kita sebagai madrasah yang penuh cahaya ilmu, di mana cinta Allah ditanamkan sejak dini melalui tanganvwanita menyiapkan dirinya dengan ilmu, ia sebenarnya sedang menyiapkan sebuah bangsa yang kuat. Mari jadikan rumah kita sebagai madrasah yang penuh cahaya ilmu, di mana cinta Allah ditanamkan sejak dini melalui tangan lembut seorang ibu. (Astuti)

============================== Download =================================

Rabu, 29 April 2026

Sinergi Spiritual dan Tugas: Bimbingan Al-Qur’an di Polsek Gondomanan Perkuat Nilai Keagamaan Personel


 

Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Gondomanan melaksanakan kegiatan bimbingan Al-Qur’an di lingkungan Polsek Gondomanan pada Rabu, 29 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan mental dan spiritual bagi anggota kepolisian agar tetap seimbang antara pelaksanaan tugas dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Dalam suasana yang khidmat, para peserta mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an secara langsung dengan pendampingan penyuluh. Metode yang digunakan menyesuaikan kemampuan masing-masing peserta, sehingga proses pembelajaran berlangsung interaktif dan efektif. Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara KUA dan institusi kepolisian dalam membangun masyarakat yang religius dan berakhlak mulia.

Melalui bimbingan ini, diharapkan para personel Polsek Gondomanan semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah serta mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tugas sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Sinergi lintas sektor ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang harmonis dan berlandaskan nilai spiritual.

Nuansa Spiritual memperkuat Pembinaan di PP Al-Munawwir Krapyak



YOGYAKARTA – Dalam rangka memperkuat peran dan fungsi di tengah masyarakat, seluruh jajaran Penyuluh Agama Islam dari Kemantren Gondomanan turut serta dalam kegiatan Pembinaan Penyuluh Agama Islam se-Kota Yogyakarta. Acara ini berlangsung khidmat pada Rabu, 29 April 2026, bertempat di Aula G Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak.

Kegiatan ini merupakan agenda strategis yang dihadiri oleh seluruh Penyuluh Agama Islam, baik fungsional maupun non-fungsional dari seluruh wilayah Kota Yogyakarta.

Pembinaan ini menghadirkan dua narasumber utama dari Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta:

1. Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta: Memberikan arahan terkait kebijakan makro penguatan moderasi beragama dan peran penyuluh sebagai ujung tombak Kemenag di masyarakat.

2. Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Yogyakarta: Memfokuskan pada penguatan administrasi, optimalisasi penyuluhan berbasis digital, dan evaluasi program kerja di lapangan.

Pemilihan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak sebagai lokasi kegiatan memberikan nuansa spiritual tersendiri. Para penyuluh diharapkan dapat menyerap semangat keilmuan dan pengabdian dari salah satu pesantren bersejarah di Yogyakarta tersebut untuk diterapkan di wilayah binaan masing-masing, khususnya di wilayah Gondomanan.

"Penyuluh bukan sekadar pemberi informasi, tapi adalah penggerak perubahan di masyarakat. Di tempat yang penuh berkah ini, kita perbarui niat dan kompetensi kita," ungkap Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta dalam sambutannya. Tim Humas KUA Gondomanan

Selasa, 28 April 2026

Hidupkan Spirit Qur’ani di Jantung Pasar, Bimbingan Al-Qur’an Muttaqien Beringharjo Kian Menguat



YOGYAKARTA — Bimbingan Al-Qur’an di Majelis Taklim Masjid Muttaqien Pasar Beringharjo kembali terlaksana pada Selasa, 28 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan dalam menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah aktivitas masyarakat, khususnya para pedagang dan warga sekitar pasar yang antusias mengikuti pembinaan keagamaan secara rutin.

Bimbingan dipandu oleh para Penyuluh Agama KUA Kemantren Gondomanan, yakni Samlawi Ersyad, S.Ag.,Astuti,S.H.I, Achmad Muslih, S.Hum., dan Suhartanto, S.Ag. Mereka memberikan pendampingan baca Al-Qur’an secara tartil, dengan perhatian khusus kepada jamaah bapak-bapak agar semakin baik dalam pelafalan dan pemahaman dasar tajwid. Suasana pembelajaran berlangsung khidmat namun tetap hangat, mencerminkan semangat kebersamaan dalam menuntut ilmu.

Kegiatan ini terselenggara melalui sinergi yang erat antara KUA Kemantren Gondomanan dengan Takmir Masjid Muttaqien Pasar Beringharjo. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata pelayanan keagamaan yang inklusif dan membumi, menjangkau komunitas pasar sebagai ruang strategis dalam membumikan Al-Qur’an di tengah kehidupan sehari-hari.

Senin, 27 April 2026

Meneguhkan Syukur di Tengah Arus Globalisasi, Lentera Madhu Hadirkan Materi Reflektif di Masjid Taqarroba


 
Kegiatan Lentera Madhu Madrasah Dhuhur kembali digelar di Masjid Taqarroba pada Senin (27/04/2026) dengan menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Gondomanan, Achmad Muslih, S.Hum, sebagai pemateri. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi bertajuk “Syukur di Era Globalisasi” yang relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat modern saat ini.

Dalam pemaparannya, Achmad Muslih menyoroti bahwa kemajuan teknologi dan arus globalisasi membawa kemudahan akses informasi, namun juga memunculkan tantangan baru, seperti meningkatnya perbandingan hidup melalui media sosial dan munculnya rasa kurang dalam diri. Ia menekankan bahwa syukur di era ini berarti mampu mengelola diri agar tidak terjebak dalam budaya konsumtif, bijak dalam menggunakan teknologi, serta menjadikan kemajuan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Lebih lanjut, disampaikan bahwa individu yang mampu menjaga rasa syukur di tengah derasnya arus globalisasi akan memiliki ketahanan mental yang lebih baik, tidak mudah merasa insecure, serta mampu menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran jamaah akan pentingnya nilai syukur sebagai fondasi kehidupan yang seimbang dan bermakna.